Latar Belakang

bua

Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu momentum yang bersejarah bagi umat Islam yang dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi.  Dalam pelaksanaan Maulid yang merupakan produk kebudayaan Islam tentu wajar bila ada perbedaaan, baik konsep, metode maupun praktik atau prosesinya, tergantung dalil dari masing-masing orang atau kelompok orang yang ingin merayakannya. Pelaksanaannya dapat juga dipengaruhi oleh budaya dan adat istiadat setempat termasuk di Indonesia.

Peringatan Maulid Nabi SAW di Indonesia yang telah mentradisi selama ratusan tahun. Merupakan saksi sejarah tentang proses pencampuran budaya dan istiadat daerah dengan penyebaran Islam di Nusantara. Namun tetap dalam bingkai semangat dan ruh mencintai dan meneladani ajaran Rasulullah SAW. Dalam berbagai tulisan di kitab Syair Maulid, seperti Al Barzanji, Deba’, Syaraful Anam, Al Burdah dan Al Habsyi, Sosok Rasulullah SAW menjadi teladan digambarkan secara detil, yaitu: beliau seorang yang jujur dan bisa dipercaya (shidiq), amanah, tabligh, bijaksana dan cerdas (fathanah). Sebaliknya, Beliau tidak pernah bedusta (Kizb) tak pernah khianat, tak pernah menyembunyikan wahyu (kitman), dan bukan orang bodoh (baladah). Beliau baik akhlaknya, tampan rupanya, tubuhnya atletis dan terawat bersih. Beliau lemah lembut namun ksatria, ramah tapi serius, dan otaknya cerdas. Tangannya sangat senang memberi, hatinya sangat berani dan lidahnya sangat bisa dipercaya. Pada malam hari Beliau hanya tidur sebentar, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk ibadah. Beliau sangat menyayangi orang miskin, mencintai anak-anak dan menghormati wanita. Beliau bagaikan seorang ayah bagi sahabatnya, sangat pemaaf, bahkan terhadap bekas musuhnya. Akhlaknya adalah Al Quran, lemah lembut, kasih sayang, mencintai dan dicintai.

Jakarta Islamic Centre (JIC) sebagai sebuah Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam dengan visinya Menjadi Pusat Peradaban Islam, memandang bahwa tradisi peringatan Mulid Nabi Muhammad SAW di Nusantara adalah bentuk ekspresi rasa cinta umat Islam terhadap Rasulullah SAW dan perjuangannya. Adapun keanekaragaman tata cara peringatannya merupakan sebuah kekayaan khazanah budaya Islam di Nusantara yang layak dipertahankan. JIC bersama Pemda Provinsi Sulawesi Tengah dan provinsi peserta festival mengemas peringatan Maulid Muhammad SAW dalam bentuk Festival Maulid Nusantara (FMN).

Pelaksanaan FMN dari tahun ke tahun tidak bisa dipisahkan dengan aspek kesejarahan Islam dan kajian yang mengawalinya. Pada tahun 2004, telah dilaksanakan workshop tentang Maulid Nabi khas Betawi yang diikuti oleh 5 wilayah Kotamadya di Jakarta dan telah dilakukan pembakuan prosesi Maulid Nabi khas Betawi. Tahun 2005, dilaksanakan Peringatan Maulid Nabi Khas Betawi  dengan ritual yang khas yaitu pagelaran seni, pembacaan rawi Maulid khas Betawi, tabligh akbar dan makan nasi kebuli bersama yang merupakan jamuan Gubernur DKI Jakarta bagi warga Jakarta. Selanjutnya pada tahun 2006 yang bertepatan dengan 1427 H, JIC menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam bentuk Festival Maulid dengan melibatkan beberapa provinsi di Indonesia. Even perdana FMN 1-1427 H diikuti oleh 6 provinsi, FMN 2 tahun 2007-1428 H diikuti oleh 14 provinsi, FMN 3–1429 H diikuti oleh 16 provinsi, sedangkan FMN 4 tahun 2009 dilaksanakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang oleh 16 provinsi sebagai peserta dan 5 provinsi sebagai peninjau. Kemudian tahun 2010, penyelenggaraan FMN 5 akan  dilaksanakan di Palu Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah dan  direncanakan diikuti oleh 33 provinsi dari seluruh Indonesia dan diprediksikan sebanyak 1500 orang yang berkunjung setiap harinya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: